untitled
Aku memiliki seberkas harapan pada seorang wanita -lagi-. Aku merasakan hal yang berbeda, entah apa. Namun sekali lagi aku takut untuk menyukai seseorang. Kali ini aku bermain sangat lembut, tak terlalu bermain perasaan, berusaha tetap mengontrol semuanya, tak pernah aku ungkapkan dalam sebuah status seperti terdahulu. Takut. Jika aku melakukan hal yang sama seperti masa lalu, akan kah kisah ini menjelma mengulang pahit masa itu? Untuk itu lah, agar aku dan rasaku tidak seperti masa itu, aku menjaganya tetap di hati dan pikiran, tidak untuk ku keluarkan. Belum saatnya.
Untukmu, kau tahu? Aku begitu bahagia. Kau terkadang membuatku merasa seperti manusia yang sangat berharga dengan caramu. Setelah hati ini pernah remuk berkali-kali, rasanya kau dapat menyembuhkannya begitu saja. Pertemuan singkat yang sering kita lewatkan, aku rasa saat itu sang waktu sedang enggan untuk aku dan kau bertemu. Hingga suatu saat di luar kota kelahiranku, aku mengenalmu.
Entah sejak kapan jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku tahu, ini sama sekali bukan penyakit. Ini sebuah emosi, emosi yang baik. Terkadang aku gugup hanya untuk hal yang tak dapat ku mengerti tentang dirimu. Namun, terkadang pula aku merasa kau sepertinya tidak ingin bersamaku. Meski sampai saat ini aku merasa bahagia berada dekat dihatimu.
Untukmu pengirim pesan yang selalu aku tunggu, jangan biarkan lampu hijau kembali kuning bahkan merah. Jangan biarkan indah warna-warni ini menjadi kelabu. Jangan biarkan hati ini mati.
Warna-warni seperti pelangi, tetaplah mewarnai hati.
Komentar